Hajjah Liana

hajjah-liana

Mengubah Umbi Beracun Menjadi Berkat

Berbahagialah orang-orang yang dikaruniai kepekaan sehingga mampu mengubah barang-barang di sekitar lingkungannya yang dianggap tak berguna menjadi bermanfaat.

Ibu Hj Lianah (54), seorang guru TK, warga Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, salah satu orang yang diberi kepekaan itu. Kemampuannya mengolah umbi gadung (Dioscorea hispida) yang beracun menjadi keripik gurih dan renyah patut diacungi jempol.

“Saya merintis usaha ini bersama ibu saya dulu. Beliau juga yang membimbing saya agar bisa membuat keripik gadung, singkong, pisang, dan lainnya. Dulu usaha saya masih belum lancar. Kemasannya masih sederhana. Labelnya cap mawar dengan tulisan tangan dan difoto kopi. Terus dilem dengan empluk (sejenis lilin tradisional),” katanya saat ditemui di Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2010 di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (23/7).

Ibu Hj. Lianah baru berkenalan dengan PPK Sampoerna pada tahun 2005. “Setelah melihat usaha saya, PKK Sampoerna lalu membina dan mendampingi agar produk keripik rasanya makin enak, plastik kemasan lebih tebal, desain label lebih menarik, punya izin PIRT dari Dinas Kesehatan, pengolahannya lebih hygienis, diajak pameran/expo dan mengikuti pelatihan pemasaran.”

Gadung menjadi keripik yang diproduksi keluarga besar ibu Hj Lianah secara turun-menurun. Leluhurnya bahkan sengaja menanam tanaman ini di ladang. Umbi gadung yang beracun itu juga kerap digunakan petani di desa untuk pestisida organik.

Cara mengolah umbi gadung menjadi keripik tergolong susah sebab racunnya harus benar-benar hilang. “Umbi dikupas, dicuci bersih, kemudian dipasrah tipis-tipis dan ditaburi abu dapur dan garam untuk menghilangkan racunnya. Setelah ditaburi garam dan abu, diletakkan di keranjang dan diperam satu hari satu malam. Bagian atas diberi sak untuk tutup dan batu. Pagi hari racunnya sudah cair dan mengalir,” tuturnya.

Setelah racunnya bersih, gadung lalu dijemur. Setelah kering, abu dapur yang menempel tadi akan rontok. Setelah itu gadung kering masih harus dicuci kembali sambil terus dibersihkan. “Kemudian dijemur kembali sambil dibolak-balik hingga tiga kali sehari,” lanjut ibu Hj Lianah.

Setelah kering, gadung direbus dan dijemur lagi. Setelah itu baru digoreng. Selama ini, menurut Ny Lianah, proses penjemuran yang paling baik menggunakan sinar matahari. Akibatnya di musim hujan, proses produksi keripik gadung sedikit terhambat. Sedangkan proses membuat keripik singkong, pisang, atau krupuk rambak sapi jauh lebih mudah.

Panen gadung hanya terjadi tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Umbi gadung yang tumbuh di bulan September sudah tak renyah lagi bila dibuat keripik.

“Saya mengolah gadung ini karena sayang jika umbinya hanya dibuang atau dibuat pestisida saja. Daun tanamannya zaman dulu juga hanya untuk membuat layangan anak-anak,” ujarnya.

Sekarang ibu Hj Lianah memiliki kelompok pengolahan gadung mentah dan matang, anggotanya para wanita dari sekitar desa. “Saya ingin para wanita maju dan mempunyai usaha.” ujarnya. Untuk memenuhi kebutuhan pesanan, ia mengandalkan kelompok gadung yang matang. Setiap hari ia juga masih turut mengontrol bumbu dan kualitas rasa gadungnya, meski tak serepot dulu lagi.

“Saya senang memberi pelatihan dalam kelompok. Laba produksi sudah dapat untuk beli mobil, motor, dan menyekolahkan anak,” akunya.

Selain membuat keripik, Ibu Hj Lianah juga mengusahakan katering. Dari Sampoerna ia mendapat bantuan alat-alat catering serta mendapat pesanan catering di PPK Sampoerna. Usaha ini ia tekuni karena pada dasarnya ia gemar memasak.

“Saya memang orang yang tidak suka diam. Bagaimanapun manusia harus mengusahakan kesejahteraan bagi hidupnya dan orang lain,” ucapnya.

Dan, usahanya telah berhasil mengubah tanaman umbi beracun menjadi berkat bagi orang lain. (TYS)

(sumber : Kompas 31 Agustus 2010)

Welcome to PPK Sampoerna