Sumarni Astri (Bu Suchaeni)

sumarni-astri-bu-suchaeni

Impian Besar dari Usaha Manisan Buah

Saat ini peran perempuan tak lagi dipandang sebelah mata. Perempuan kini sudah banyak berperan aktif dalam masyarakat, termasuk dalam pemberdayaan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan. Beranjak dari pemikiran itu, Sumarni Astri, 41, berusaha menggerakkan para perempuan di lingkup tempat tinggalnya yang ada di kawasan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, Surabaya, untuk memajukan daerahnya.

Aktivitas dimulai dengan membersihkan lingkungan terlebih dahulu. Pasalnya, lingkungan yang bersih akan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Masyarakat pun akan lebih sehat sehingga kualitas hidup meningkat. Maka, bersama dengan seluruh stakeholder yang ada di lingkungan Kedung Baruk, perempuan berkerudung itu menggalakkan kegiatan bersih-bersih kampung.

”Visi kami menciptakan lingkungan Kedung Baruk yang bersih, asri, indah dan nyaman,” ujar perempuan yang akrab disapa dengan nama suaminya, Suchaini, itu. Visi itu diikuti dengan misi berupa optimalisasi limbah rumah tangga, meningkatkan kesadaran untuk hidup bersih dan sehat, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis sumber daya lokal.
Setelah lingkungan yang bersih tercapai, maka misi peningkatan kesejahteraan dimulai. Usaha itu diawali dengan membuat suatu usaha bersama berupa pembuatan manisan yang berasal dari tanaman rempah-rempah. Usaha tersebut dijalankan bersama dengan 10 perempuan yang lain. Sejak awal, kelompok tersebut telah berkomitmen untuk menyisihkan 20 persen hasil usaha untuk kemajuan daerah, misalnya untuk kebersihan dan penghijauan.

”Kami tidak semata-mata menjalankan usaha tetapi juga ingin memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan dengan melakukan penghijauan,” kata ibu dari Aprilia Kusumawardani, Tommy Rakasiwi, serta Meliana Putrikartikasari itu.

Setelah usaha yang dijalankan mengalami perkembangan, Ibu Suchaini mulai bergabung dengan Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna  sejak awal 2011 lalu bersama 5 orang rekan yang lain. Selama bergabung dengan PPK Sampoerna, Bu Suchaini mendapatkan sejumlah pelatihan, termasuk pelatihan pembuatan manisan semibasah.

Hasil dari pelatihan tersebut kemudian disebarkan ke banyak orang di wilayah tersebut hingga akhirnya menginspirasi mereka untuk membuat suatu usaha kelompok. ”Kami punya impian besar agar usaha manisan semibasah ini bisa sukses,” beber koordinator kelompok Srikandi Kedung Baruk itu.

Produk dari manisan semibasah itu tak terbatas tanaman rempah-rempah seperti yang mereka produksi sebelumnya. Bahan bakunya berkembang ke buah-buahan seperti mangga, tomat, dan nanas, bahkan cabai pun mereka manfaatkan. ’’Untuk manisan cabai ini yang digunakan adalah cabai merah besar yang dibuang isinya. Rasanya unik, pedas dan manis,’’ ujarnya. Harga dari produk manisan semibasah itu bervariasi, tergantung dari harga dasar bahan baku. Misalnya manisan tomat, per ons dipatok harga Rp 20 ribu.

Wilayah pemasaran produk manisan semibasah itu memang masih fokus di lingkungan sekitar Kedung Baruk. Meski demikian, produk sudah dikemas dengan apik dan rapi, tidak asal-asalan. Bahkan, usaha manisan semibasah ini pun sudah mengantongi izin usaha resmi sebagai jaminan kepada konsumen, yaitu ijin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) . Semua itu berkat bantuan dari PPK Sampoerna.

Selain membuat manisan semibasah, Suchaini dan rekan-rekannya juga mengembangkan produk lainnya seperti pembuatan kompos, minuman herbal instan, serta membuat produk daur ulang. ”Intinya, saya dan teman-teman tetap menjalankan usaha yang ramah lingkungan dan bisa kembali digunakan untuk melestarikan lingkungan,” katanya.

Mengingat usaha yang dijalankan tersebut masih baru, keuntungan besar memang belum didapat, akan tetapi, manfaat besar sudah dirasakan. Setidaknya kini makin banyak ibu-ibu yang ikut bergabung dalam usaha ini. ”Kalau dulu, ibu-ibu hanya sekadar duduk-duduk sambil gosip, sekarang, obrolannya sudah bernilai dan bermanfaat,” ujar Suchaini lantas tertawa. (IGN)

(sumber : Jawa Pos 18 Agustus 2011)

Welcome to PPK Sampoerna