Fadholi

fadholi

Fadholi, Menanggalkan Budaya Tanam Konvensional

Seperti petani umumnya, penampilan Fadholi (47) tampak bersahaja saat ditemui di arena Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (24/7).

Namun ditanya tentang bagaimana ia menanam padi dalam kurun waktu dua tahun ini, ia bisa menjelaskan secara detail di luar kepala. “Saya dulu itu petani konvensional. Kalau menanam padi, ya, hanya ikut-ikutan mbah-mbah saya dulu,” katanya.

Pada tahun 2008, Fadholi bersama kelompok taninya mendapat tawaran untuk bergabung ke dalam PPK Sampoerna mengingat desanya masuk ke dalam lingkaran pertama (Ring 1) pabrik PT HM Sampoerna Tbk.

Saat itu, dengan bermodal tanah seluas 3.500 meter (m) persegi, Fadholi diperkenalkan dengan sistem menanam tanaman pangan yang disebut System of Rice Intensification atau Sistem Intensifikasi Padi (SRI). Sistem ini diperkenalkan pertama kali oleh seorang pastor berkebangsaan Perancis pada tahun 1983 untuk membangun pertanian di Madagaskar. Hanya saja tak ada publikasi mengenai hasilnya pada masa-masa awal sistem ini diuji coba.

Dengan menerapkan SRI, Fadholi mengaku dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar saat musim panen padi dengan modal tanam yang murah.

“Dulu tanah saya itu hanya dapat ditanami padi satu kali, yang dua kali ditanami palawija. Tapi sekarang bisa menanam padi dua kali. Sekarangg saya punya satu hektar sawah meski lokasinya tidak jadi satu,” ujarnya.

Ia menceritakan, saat belum mengikuti metode SRI, sawahnya yang seluas 3.500 m persegi hanya mampu menghasilkan padi sebanyak 8 kwintal hingga 1 ton. Sekarang dari luas 1 hektar sawahnya, ia bisa memanen 9 ton padi.

Setelah bergabung dengan PPK Sampoerna, ia mengaku mendapat pelatihan berupa sekolah dan praktik lapangan satu kali seminggu. Materi yang diajarkan antara lain cara menyiapkan tanah, pembibitan, masa tanam, hingga pascapanen.

“Tanah di Pasuruan kurang bagus sehingga harus disiapkan dulu. Saya tahu caranya, ya, setelah ikut program ini. Untuk pembibitan contohnya, kalau sistem konvensional per hektar butuh 75 kilogram (kg) benih padi, sedangkan dalam SRI cuma butuh 5 kg sampai 7 kg saja,” jelasnya.

Uji benih
Di sinilah Fadholi menemukan tantangan dalam mengubah budaya menanam padi, sebab semua cara yang ditawarkan SRI nyaris berbeda dengan yang ia pahami selama ini. Bahkan ia sempat bertelingkah dengan orangtuanya saat mencoba menerapkan sistem tanam ini di sawahnya.

Salah satu hal yang dianggap berbeda dalam SRI oleh Fadholi adalah adanya uji benih. Ini untuk mendapatkan benih padi yang benar-benar bagus. Contohnya, untuk menyebar 7 kg benih, petani membeli dulu 10 kg benih.

Benih lalu diuji dengan cara dimasukkan dalam air garam. Untuk 7 liter-10 liter air dibutuhkan 1,5 kg-2 kg garam. Air garam ini dites dulu dengan mencelupkan sebutir telur bebek. Bila telur itu mengambang berarti garamnya sudah cukup. Benih-benih padi lalu dimasukkan, benih-benih yang mengambang berarti tidak baik dan dibuang. Benih yang dibeli di toko dengan kemasan yang bagus tetap harus diuji sebab kemasan tak menjamin isinya.

Benih-benih ini kemudian disemai. Dalam metode konvensional, persemaian membutuhkan 25 hari-30 hari, bibit baru bisa ditatam. Tapi dengan SRI, hanya butuh 7 hari-12 hari persemaian. Bibit padi yang masih amat kecil ini lantas ditanam dan satu lubang hanya untuk satu tanaman.
“Satu lubang satu tanaman ini juga menjadi budaya yang baru lagi. Karena bibitnya masih kecil, petakan sawah harus disiapkan sebelumnya dan parit keliling harus ada untuk pengairan. Tinggi air harus diatur benar hanya 1 cm sampai 2 cm. Kami lalu menanam bibit dalam keadaan masih muda dan dangkal. Tidak boleh menancap. Cara menanam ini juga dilatih khusus,” ujar Fadholi.

Karena bibitnya masih kecil, setelah 15 hari ditanam belum kelihatan benar pertumbuhannya. Hal ini acap membuat petani khawatir. “Kami harus kontrol terus. Jangan sampai airnya terlalu tinggi sebab membuat padi tidak bisa bercabang,” terangnya.

Selain cara menanam padi, petani juga dibimbing untuk membuat pupuk dan pestisida alami. Mereka memanfaatkan umbi gadung (Dioscorea hispida) untuk mengusir ulat dan belalang.

“Cara membuatnya, gadung direndam lalu difermentasi satu hari satu malam. Seperempat liter hasil fermentasi dapat untuk 1 tangki air. Kemudian disemprotkan ke tanaman padi seperti biasa,” kata Fadholi.

Sedangkan untuk pupuk, petani memanfaatkan bonggol pisang. Proses membuatnya, 5 kg bonggol pisang dicacah dan dicampur air bekas mencuci beras dan ditambah 2 kg gula merah. Setelah itu difermentasi selama 14 hari. Hasilnya bisa langsung dipakai atau kalau mau disimpan dulu harus disaring dan dimasukkan dalam botol.

“Itu untuk menggantikan Urea. Kalau pupuk ZA diganti dengan fermentasi batang pisang,” aku Fadholi.

Menanam padi dengan SRI, lanjut Fadholi, hasilnya lebih baik. Dengan satu lubang satu tanaman, padi bisa bercabang lebih banyak dibanding dengan komposisi lama. Daya tahan tanaman juga lebih kuat. Selain itu berasnya juga lebih enak dan harga jualnya lebih mahal karena semuanya organik.

Menurut pembina di PPK Sampoerna, SRI bisa diterapkan juga untuk tanaman pangan selain padi.

Menggemukkan sapi
Fadholi tak hanya tergolong sukses dalam bertani. Sebab ia juga bisa dibilang berhasil dalam menggemukkan sapi. Pada tahun 2008, ia mencoba menggemukkan tiga ekor sapi. Namun hasilnya tak signifikan. Setelah dibimbing di PPK Sampoerna, sekarang ia memiliki sekitar 70 ekor sapi.

“Agar sapi cepat gemuk itu ternyata ada caranya, yakni diberi pakan berupa konsentrat alami, tidak rumput terus-menerus. Kami diajari membuat konsentrat alami ini. Bahannya dari sekitar rumah saja,” tukasnya.

Bahan-bahan itu antara lain kulit kacang, dedak, kacang tanah dan kedelai bermutu rendah, ampas kopra, kulit kopi, biji buah randu, ampas tahu, bonggol singkong, dan kangkung.

Pemberian konsentrat ini diselingi dengan rumput. Misalnya pada pagi hari, sapi diberi konsentrat, siangnya diberi rumput, dan malam harinya diberi konsentrat lagi. Bila dipacu dengan konsentrat, sapi akan terlalu cepat gemuk dan berakibat bisa menyulitkan pengaturan penjualan daging.
“Dengan konsentrat bisa tambah gemuk 1,2 kg per hari karena kandungan protein konsentrat tinggi. Kalau hanya pakai rumput tambah gemuk 0,5 kg saja per hari,” imbuh Fadholi.

Jika peternak ingin memacu bobot sapinya, dalam sehari satu ekor sapi membutuhkan 10 kg konsentrat. Konsentrat dapat diberikan pada semua jenis sapi.

Menurut hitung-hitungan Fadholi, keuntungan lebih besar bila menggemukkan sapi lokal. Sederhananya begini, bila peternak memiliki modal 10 juta rupiah, jumlah tersebut dapat untuk membeli dua tiga ekor sapi lokal yang tidak disukai pasar karena terlalu kecil atau kurus. Sementara jika untuk membeli sapi jenis limosin hanya dapat seekor saja. Dan, pasar daging sapi itu relatif tidak berbeda.

Dalam seminggu, Fadholi membeli enam ekor sapi dan dalam sehari ia memotong sekitar enam ekor sapi. Daging sapi milik Fadholi sudah ada pelanggannya, yakni konsumen di daerah Bangil, Jawa Timur.

“Di Bangil mayoritas pembelinya orang Arab. Mereka paham benar mana daging sapi yang lokal dan impor, daging yang sehat dan tidak sehat. Alhamdulillah daging dari sapi-sapi saya cukup laku di sana,” ucapnya.

Fadholi yang wong ndeso ini tak pelit membagikan ilmunya. Persis dengan semangat kekeluargaan wong ndeso yang serba egaliter. (TYS)

(sumber : Kompas, 24 Agustus 2011)

Welcome to PPK Sampoerna