Kaiman

kaiman

Budidaya Jamur Ala Mantan Preman

Sejak umur 18 tahun Kaiman (50) nyaris bertempat tinggal di jalanan setiap hari. Hidupnya ia gantung di sepanjang rute Surabaya-Denpasar. Kaiman muda saat itu berprofesi sebagai sopir truk. Kira-kira 20 tahun ia menjalani pekerjaan ini.

“Saat itu sepertinya saya tak memiliki harapan masa depan. Saya ini lulusan sekolah dasar, itupun hanya sampai kelas lima,” katanya sambil memandang lepas.

Kaiman mengalirkan kembali kisahnya. Setelah merayapi jalanan sepanjang Jawa-Bali, krisis ekonomi yang menerjang Indonesia sekitar tahun 1998 akhirnya melibas dirinya juga.

“Saya kehilangan pekerjaan akibat krisis moneter. Setahun saya menganggur. Setelah itu saya jadi preman, sekitar tahun 2000. Ya, mau gimana lagi? Saya nggak ada pekerjaan, sementara saya butuh uang untuk hidup,” akunya.

Empat tahun Kaiman menjadi wong ndalan (orang jalanan). Hidupnya tak menentu. Namun pada tahun 2004, Kaiman yang tinggal di Desa Bulukandang, Pasuruan, Jawa Timur, mendapat tawaran bergabung dalam Pusat Pengembangan Kewirausahaan Sampoerna (PPK Sampoerna). Hal itu dimungkinkan karena desanya masuk dalam lingkaran pertama (Ring-1)pabrik PT HM Sampoerna Tbk.

Dalam PPK Sampoerna, warga desa dibimbing untuk menjadi wirausaha melalui berbagai jenis industri rumahan yang bahan bakunya tersedia di lingkungan rumah. Warga dilatih menghasilkan karya bernilai ekonomi, mulai dari konveksi, ternak, tanaman pangan, makanan tradisional, hingga kerajinan mebel.

“Awalnya saya bingung mau usaha apa. Tapi saya mengamati di sekitar rumah saya terdapat banyak sekali limbah kayu, bentuknya serbuk gergaji. Saya laporkan itu pada Sampoerna. Kami kemudian sepakat untuk memanfaatkannya dalam budidaya jamur,” kata Kaiman.

Saat ditemui di rumahnya, Jumat (23/7), Kaiman menunjukkan secara singkat rutinitasnya saat ini. Di pekarangan rumahnya tersusun rapi ratusan baglog (media tanam) jamur di sejumlah rak panjang sederhana. Ruangan itu sebenarnya tak terlalu luas, tapi cukup ideal sebagai wadah pembudidayaan jamur.

Baglog dibuat dari serbuk gergaji dicampur bekatul dan kapur yang disterilisasi dengan panas hingga 100 derajat Celsius. Calon benih lalu diinokulasi (diberi bibit jamur), dikemas dalam wadah plastik yang disumbat dengan kapas dan tutup plastik untuk kemudian ditempatkan dalam ruang inkubasi sebelum dipanen kelak.

Budidaya jamur, kata Kaiman, memiliki prospek cerah untuk membantu pemberdayaan warga desa di Jawa Timur. Selain untuk memenuhi kebutuhan jamur bagi konsumsi masyarakat setempat, juga dapat berguna bagi pebisnis kuliner dalam skala besar.

Kaiman mengaku mendapat modal berupa pelatihan dan peralatan kerja. “Kalau dimodali uang, saya yakin malah tidak berhasil karena saya tidak punya keterampilan apa-apa,” ungkapnya.

Ia jatuh hati untuk membudidayakan jamur karena tertarik dengan media tanam dan bahan bakunya yang semua berasal dari limbah, terutama serbuk kayu. Selain itu, budidaya jamur membutuhkan banyak tenaga kerja sehingga kegiatan ini dapat menjadi sebuah program padat karya.

“Dari proses awal sampai akhir butuh banyak orang. Mulai dari proses fermentasi, penyampuran, pembungkusan, sterilisasi, hingga inokulasi. Meski bahannya limbah, tapi jamur bisa terjual mahal,” ujarnya.

Kultur jaringan
Sekarang Kaiman tak lagi sekadar menjadi petani, tapi ia ditunjuk PPK Sampoerna untuk menjadi pelatih bagi petani jamur yang masih dalam taraf belajar. Kaiman dengan senang hati menularkan ilmunya kepada petani pemula sebagai bentuk bela rasa pada sesama warga desa.

“Saya dulu pernah hidup susah. Sekarang saya ingin turut membantu warga yang ingin berwirausaha. Usia saya sudah tua, sekarang saya ingin belajar yang baik-baik saja,” katanya.

Kaiman saat ini dibantu oleh 20 orang pemuda yang juga ia rekrut dari jalanan. Mereka setahap demi setahap dibimbing Kaiman untuk berubah dan mau bekerja. Menurut Kaiman, pekerjaan yang paling sulit adalah mengubah budaya dari pemuda jalanan menjadi pekerja ulet. Untuk yang satu ini, Kaiman tak akan menyerah.

“Orang sudah tahu siapa karyawan saya. Mereka semua dulunya pemuda nakal, punya tato seperti saya. Ada yang dari Flores, ia sempat terlantar di Jawa. Sekarang setiap hari saya dan keluarga bekerja dengan mereka,” ujarnya.

Kaiman selalu menanamkan semangat berusaha pada karyawannya. Ia bilang, kalau mau sukses setiap orang harus punya keinginan baru, mau bekerja keras, dan sabar. Kalau mudah emosi tak akan berhasil. Ia sudah membuktikan itu. Dulu dalam enam bulan pertama membudidayakan jamur, tak ada satu pun yang berhasil. Tapi ia tetap sabar dan terus mencoba.

Kaiman saat ini sudah tergolong berhasil, ia tak cuma menempatkan baglog jamur yang sudah diinokulasi (disebut pula F-4 atau benih siap tanam), melakukan pemeliharaan, dan memanen jamur saja, tapi juga memproduksi benih jamur kultur jaringan. Belum banyak petani mampu membuat benih kultur jaringan secara mandiri.

Tentang kultur jaringan ini, Kaiman dibimbing seorang pakar jamur dari Belanda. “Namanya Mr Doit. Dulu saya secara tak sengaja berkenalan waktu seminar di Sumatera. Saya tak bisa tidur di kamar hotel yang mewah, lalu saya jalan-jalan di lobi saja dan berkenalan dengan beliau. Beliau ternyata pakar jamur dan saya diajari kultur jaringan. Setiap tahun beliau datang ke rumah saya, sudah seperti saudara sendiri.”

Dulu, Kaiman menjual jamur yang sudah siap diolah menjadi barang konsumsi, namun sekarang jumlah penjualan jamur siap panen ia kurangi hingga tersisa 20 persen saja. Saat ini 80 persen usahanya adalah menjual bibit jamur. Setiap bulan ia menerima pesanan sebanyak 150 ribu baglog.

Nama dan karya Kaiman semakin dikenal di luar Jawa, semisal Sumatera, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Keberhasilannya menapaki jejaring bisnis jamur di luar Jawa karena ketelatenannya dalam mempelajari kiat memperluas pasar.

Soal lumbung rupiah yang sudah berhasil ia kumpulkan, Kaiman menjawab lirih, “Omzet per bulan sekitar 150 juta rupiah. Angka ini setelah dikurangi biaya operasional, masih ada sisa sekitar 25 juta rupiah per bulan untuk ditabung.”

Budidaya jamur tergolong kegiatan yang sulit, namun dengan semangat pantang menyerah, orang seperti Kaiman pun dapat berhasil. Kini ia berharap agar para pemuda yang tidak memiliki keterampilan mau belajar wirausaha. Ah, seandainya saja ada banyak orang seperti Kaiman. (TYS)

(sumber : Kompas, 17 Agustus 2010)

Welcome to PPK Sampoerna