Solikhatin

solikhatin

Bangkit dari Keterpurukan dengan Bordir

Garis kehidupan yang dialami tiap orang tentu berbeda. Tidak ada orang satupun yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi nanti. Itulah yang dialami Solikhatin. Perempuan kelahiran 8 September 1973 itu tersebut tak mengira akan cepat ditinggalkan oleh sang suami menghadap sang kuasa di tahun ke-delapan pernikahan mereka. Kepergian suami akibat stroke pada 2009 membuat Solikhatin shock.

Terlebih, sepeninggal suami, tampuk pimpinan keluarga beralih kepadanya. Pengasuhan dua putra mereka yang masih kecil pun sepenuhnya ada di tangannya. ’’Saya sempat putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Kedua anak saya juga membutuhkan biaya untuk sekolah,’’ kenang Solikhatin.

Solikhatin sendiri hanya seorang ibu rumah tangga. Namun, semasa suami masih hidup, perempuan berjilbab itu sempat membantu suami menjalankan usaha jahit dan bordir. Mereka berbagi tugas, suami menjahit, Solikhatin yang membordir. Usaha tersebut memberikan penghasilan yang lumayan bagi mereka bahkan boleh dikatakan usaha itu cukup berkembang. Mereka cukup banyak menerima pesanan dari tetangga sekitar rumah. ’’Awalnya, kami belum punya mesin jahit sendiri. Dari hasil menabung selama dua tahun kami bisa membeli mesin jahit dan bordir,’’ katanya.

Ketika suami tiada, Solikhatin sebenarnya ingin melanjutkan usaha tersebut. Tetapi, kesedihan membuatnya tak berbuat apa-apa untuk sementara. Bahkan, sempat terlintas dalam benaknya untuk mendulang rupiah sebagai TKI untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah beberapa waktu, Solikhatin sadar, dia harus berjuang. Kedua anaknya harus tetap bersekolah. Dia pun lantas putar otak.

Berbekal keterampilan bordir yang dimiliki, Solikhatin bertekat melanjutkan usaha tersebut seorang diri. ’’Awalnya sempat khawatir karena selama ini saya bekerja bersama suami. Tetapi saya berpikir, kenapa keterampilan ini tidak saya manfatkan untuk menghasilkan uang,’’ ungkapnya.

Solikhatin pun memulai perjuangannya. Dia membuat aneka macam produksi bordir seperti mukena serta baju koko. Sistem penjualan yang diterapkannya agak berbeda, bukan lagi dari pesanan, tetapi menitipkan barang-barangnya ke orang-orang yang bersedia menjualkan. Sayang, cara ini rupanya kurang sesuai. Sebab, Solikhatin justru kerap ditipu. Seringkali barang-brang titipannya tak kembali dan dibawa kabur oleh penjualnya. Lantaran tak banyak pendapatan yang masuk, sementara produksi jalan terus, lama-kelamaan Solikhatin pun bangkrut.

Meski demikian, Solikhatin tak menyerah. Dia mencari jalan agar tetap bisa melanjutkan usaha.  Pada 2010, Solikhatin mengenal lembaga keuangan mikro (LKM) dan meminjam modal. Dari LKM ini, dia lantas mendapatkan pendampingan dari tim pemberdayaan perempuan hingga akhirnya dikenalkan dan bergabung dengan Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna yang letaknya tak jauh dari rumahnya yang ada di kawsan Prigen, Pasuruan.

Di PPK Sampoerna, Solikhatin banyak mendapatkan pelatihan terutama pelatihan bordir, sesuai dengan keahliannya. Tidak hanya itu, Solikhatin pun dibantu dalam hal pemasaran. Dari yang semula menerapkan sisitem titip jual berubah menjadi sistem pesanan. Selain memasarkan produknya di sekitar daerah tempat tinggalnya, Solikhatin juga memasok produk mukena untuk UKM Center. Adapun UKM Center merupakan outlet penjualan khusus peserta binaan PPK Sampoerna. Menurutnya, langkah ini jauh lebih membantu. Sebab, dengan demikian, kemungkinan barang dagangan hilang atau terbawa sudah tidak lagi terjadi. Harga yang di dapatkan pun bagus.

Tidak hanya itu, Solikhatin juga mendapatkan pelatihan-pelatihan mengenai perbaikan kualitas produk. Jika selama ini Solikhatin membordir berdasarkan insting, oleh pihak PPK Sampoerna Solikhatin diarahkan untuk membordir dengan motif-motif yang disukai konsumen dan banyak laku di pasaran.

Memang, usaha yang dijalani Solikhatin ini tergolong baru. Namun, Solikhatin mengaku sudah mereguk hasil yang cukup. Setidaknya, jerih payahnya itu bisa digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari, serta dapat melanjutkan sekolah untuk kedua putranya. (IGN)

(sumber : Jawa Pos 25 Agustus 2011)

Welcome to PPK Sampoerna